Langsung ke konten utama

DIKJUT BiOSC 2013: Diary Para Sweeper

Jelang pukul sembilan pagi, 20 menit setelah semua kelompok berangkat, 3 sweeper menyusul. Septy, Abid dan Ilham berjalan di belakang 5 kelompok untuk memastikan semuanya on the track. Selain mereka bertiga, seorang bintang tamu yang juga ikut serta.
Sepanjang jalan kami berempat tak lepas dari obrolan, tentang apa saja, namanya juga anak muda. Di beberapa tempat kami juga berhenti untuk beristirahat. Istirahatnya pun suka-suka. Di gardu pandang misalnya, kami menikmati sebungkus Chitato dari Ilham, lalu saya mengeluarkan dua buat coklat kemasan kecil, lalu Ilham mengeluarkan sebungkus rotinya lagi, sementara Abid tak mengeluarkan apa-apa tapi paling banyak menghabiskan. Untuk menemani saya memutarkan beberapa lagu yang sangat mereka suka dari KAHITNA.
                                                                                                                                      
Di gardu pandang kami mati gaya sampai akhirnya tiba-tiba pemandangan indah tersaji di depan. Pergerakan kabut secara menakjuban kami saksikan melintasi langit di depan. Semua tampak jelas. Begitu indahnya kami berempat maju mendekat untuk mengambil foto. Tapi hujan turun lagi sampai akhirnya Abid tiba-tiba mengeluarkan payung warna oranye dan kami pun berpayung bertigaam (?????!)

Di sini kami berhenti sangat lama. Selain hujan yang semakin menjadi, kami pun menunggu satu kelompok lewat. Namun setelah hampir 1 jam menunggu tanpa kepastian (?????!), kami memutuskan melanjutkan sweeping.

Medan yang tak mudah. Begitu  kami rasakan ketika mendapati tanah dan bebatuan tempat kaki berpijak menjadi sangat licin, becek dan tak mudah dilalui. Kami pun coba membayangkan kabar dari kelompok yang berangkat melalui jalur hitam, tentu jauh lebih tidak mudah dan mungkin beresiko. Selain rutenya lebih panjang, jalur hitam juga memiliki kondisi yang secara umum berbeda dengan jalur reguler.

Selama sweeping kami juga melalukan observasi di beberapa tempat. Beberapa “anggrek baru” kami temukan sementara beberapa “anggrek lama” masih dapat dijumpai di lokasinya. Beberapa jenis anggrek bahkan kami jumpai dalam jumlah yang cukup banyak. Dalam kondisi basah, kedua spesies “anggrek daun” tersebut tampak sangat cantik. Selain daunnya yang tampak lebih mengkilat, keberadaan keduanya juga lebih mencolok karena tumbuh di tempat yang banyak seresah. Zeuxine bahkan menunjukkan kuncup bunganya.
Abid sedang mencari sebelah hatinya yang hilang
Hari beranjak siang. Kami terus berjalan dan kini sudah ada banyak wisatawan yang berada di depan dan belakang kami. Banyak di antara mereka yang salah kostum. Sementara kami sepertinya salah tempat. Beginilah kalau sweeping bersama anak muda yang baru saja merakan cinta barunya. Sepanjang jalan kami bertiga menjadi saksi “manjanya” Abid. Sedikit-sedikit telepon, sedikit-sedikit sms, orang yang diajak bicara di ujung telepon tak usah diceritakan, semua pun sudah tahu.

Tak hanya observasi Anggrek, pada satu titik saya menemukan tempat yang bagus untuk prewedding. Sebuah jembatan kayu di tengah-tengah rimbun pepohonan besar dan semak yang lebat. Kondisinya usai diguyur hujan dan kabut yang menyelimuti membuatnya tampak sangat manis.
Ini dia tempat yang manis untuk foto prewedding
Perjalanan masih jauh, menurut saya bahkan tempat ini sepertinya menjadi lebih lebar. Saat merasa sudah hampir tiba di puncak, ternyata itu hanya fatamorgana. Sialnya itu terjadi berulang-ulang. Lebih sialnya saya membawa tas punggung seharga 400 ribu dan sepatu baru seharga hampir 300 ratus ribu (sombong) dan dalam sekejab keduanya sudah bermandikan lumpur. Padahal di dalam juga ada dua buku tabungan dan sebuah buka harian saya (semakin sombong). Oleh karena itu sepanjang jalan saya hampir selalu mengenakan mantel meski hujan telah reda.

Jelang tengah hari kami bertemu dengan satu kelompok yang sedang melakukan observasi. Menurut saya cara observasi mereka perlu ditingkatkan. Tidak hanya berjalan atau berdiri memandangi semak yang ada di depan saja. Observasi dalam kerangka eksplorasi perlu usaha lebih dari itu. Mereka perlu menyingkap area yang lebih luas tentu saja harus dalam jangkauan kemampuan dan pengawasan pemandu karena ini adalah diklat. Jika hanya berjalan bergerombol lalu berhenti di satu tempat yang sama dan semuanya memasang gaya yang sama, akan ada  banyak Anggrek yang mereka lewatkan karena di tempat ini lebih banyak jenis Anggrek terestrik yang cara pengamatannya memerlukan kecermatan lebih dibanding anggrek epifit yang cenderung mudah dibedakan.
 
gaya observasi yang aneh..^^V
Setiap orang dalam satu kelompok juga perlu menguasai banyak pekerjaan sekaligus. Jika dalam diklat tugas dibagi antara tukang foto, menggambar dan membuat catatan lapangannya, maka sebenanrnya pada saat-saat tertentu setiap orang perlu bisa melakukan semua hal itu sekaligus.

Catatan lain, melihat hasil dan cara memotret spesimen Anggrek di alam yang dilakukan beberapa peserta, juga foto-foto yang sempat saya lihat sesaat sebelum mereka presentasi hasil, cara pengambilan gambar oleh mereka harus diperbaiki. Bukan tentang tekniknya, tapi tentang cara mengambil dokumentasi berupa foto. Tidak semua foto harus menyertakan latar belakang atau background. Saya tidak mengerti mengapa banyak di antara adik-adik BiOSC yang masih menggunakan latar warna putih, sebuah warna yang tidak dianjurkan sebagai background. Selain mempersulit fokus, kontras gambar yang didapat dengan bakcground putih juga tidak baik. Background buatan untuk memotret Anggrek di alam sebenarnya TIDAK diperlukan jika tujuannya adalah menggambarkan bagaimana Anggrek itu hidup di habitatnya. Background untuk Anggrek dibutuhkan jika hendak membuat foto portrait dan itu biasanya dilakukan di dalam laboratorium. Oleh karena itu saya tidak pernah menggunakan background jika memotret anggrek di alam. Background terbaik boleh jadi adalah lingkungan sekitarnya dan itu bisa berupa batang, daun dari tumbuhan lain di sekitarnya atau benda-benda lain yang secara alami memang berada di belakang obyek Anggrek yang hendak kita potret. Skala berupa panggaris, pensil atau benda apapun memang dibutuhkan tapi jika dalam foto yang diambil akhirnya memunculkan tangan atau bagian tubuh  lain maka dokumentasi harus diulang dengan menghilangkan semua obyek-obyek "asing" tersebut. 
Akhirnya kami tiba puncak, saat itu mungkin banyak yang rugi karena kabut yang menutupi puncak membuat pemandangan indah yang biasanya terhampar di sana menjadi tertutup kelabu. Tapi saya rasa ada hal yang lebih bermakna dan pelajaran yang lebih berharga dibanding berfoto dengan latar belakang pemandangan itu.

Kami berempat beristirahat bersama sejumlah kelompok yang telah sampai di puncak sampai akhirnya semua melanjutkan perjalanan dan sebuah bunyi peluit melengking membangunkan kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …