Langsung ke konten utama

Tak Ada "Coboy Junior" di Peringatan Hari Anak Internasional Yogyakarta (Cerita Foto)


Minggu, 2 Juni 2013, hari masih pagi ketika halaman gerbang kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta mulai ramai oleh puluhan anak kecil berpakaian warna-warni. Beberapa orang tua terutama ibu tampak menemani. Mereka semua menuju satu tempat yang sama, menghadap sebuah panggung kecil nan sederhana. Sementara beberapa orang dewasa berseragam kaus putih tampak sibuk mengarahkan anak-anak yang berdatangan. Beberapa menata perlengkapan panggung. Ada juga yang hilir mudik dengan kertas run down, sisanya bersiap-siap dengan tugasnya termasuk dengan kamera di tangan. Hari itu mereka semua hendak menari, bernyanyi juga berbagi di peringatan Hari Anak Internasional.


Senang sekali melihat semua yang datang hari itu Walau tak banyak tapi semua  hadir sebagai anak-anak dengan kehidupan mereka yang apa adanya. Sekelompok anak jalanan berbaur dengan mereka yang dihantar orang tuanya. Demikian juga dengan beberapa orang tua yang dengan percaya diri menggandeng dan membimbing putra-putrinya mereka yang berkebutuhan khusus. Hingga akhirnya ketika panggung dimulai, suara mereka semua pun pecah!





Lagu-lagu anak dinyanyikan dengan suara anak. Lalu lagu-lagu kebangsaan dibawakan oleh sekelompok anak lainnya yang berpakaian adat Jawa sambil mengibarkan bendera merah putih. Sementara itu dari atas panggung anak-anak lain memainkan  alat musik untuk mengiringi, ada yang memainkan angklung hingga menggesek biola. Di depan panggung para orang tua seringkali maju mendekat untuk memberikan semangat putra - putrinya. Beberapa memberikan kode agar sang anak tersenyum sementara yang lainnya meminta semua penonton untuk ikut bertepuk tangan memberi dukungan kepada para bintang cilik yang sedang beraksi. Hiyeeee hiye hiyeeee...!
Parade lagu selesai, kini giliran anak laki-laki unjuk gigi. Dengan riasan wajah yang lucu dan tingkah yang membuat saya tak fokus membidik, mereka menampilkan wajah yang sangat khas anak-anak. Dengan percaya diri mereka maju ke muka panggung mendekati penonton. Dalam sekejap mereka menari jaranan. Jangan bayangkan tariannya kompak dan teratur. Beberapa anak bahkan tampak bingung dan saling memandang, entah grogi atau memang mereka bolos latihan ^^. Jaranan selesai kini giliran mereka menampilkan permainan tradisional. Beberapa anak duduk bersila saling berhadapan membentuk lingkaran. Dengan percakapan bahasa Jawa mereka seperti sedang berkisah, bermain tebak-tebakkan.

Di lain tempat, di belakang dan sisi panggung sekelompok anak lainnya mencuri waktu untuk bertingkah "semaunya". Ada yang bersandar pada panggung memasang muka cemberut menanti gilirannya tampil yang mungkin masih lama. Sementara yang lain iseng mengambil gitar dari atas panggung dan memetika sekenanya. Mereka "asyik" sendiri sementara teman-temannya sedang beraksi di depan. Tapi tak ada yang menegur mereka, untuk apa, mereka memang perlu memiliki dunianya sendiri. 

Acara mendekati puncak jelang tengah siang. Namun senyuman dan tingkah polah mereka tak sama sekali berkurang kadarnya. Beberapa masih asyik berkeliaran ke sana kemari dengan layang-layang kecilnya. Sementara yang lainnya tetap setia berkerumun di muka panggung. Ketika dua orang pembaca acara berteriak "siapa yang mau doorprize???!"  dalam sekejap panggung diserbu. Semua berlari naik tapi tak semuanya beruntung. Mereka yang datang terlambat terpaksa harus turun kembali dan merelakan doorprize kepada teman-temannya. Siapa suruh jauh-jauh dari panggung..^^. Tapi tak ada doorprize yang gratis, mereka harus beradu bakat. Hitung matematika, tanya jawab soal sejarah hingga adu nyanyi menjadi syarat untuk mendapatkan doorprize. Jujur saja di kala tantangan menyanyi saya sempat menunggu akankah ada di antara anak-anak itu yang menyanyikan "eaaa eaaaa eaaa". Syukurlah hal itu tidak terjadi, lagu balonku mengantar anak-anak itu merengkuh doorprizenya. Selamat Hari Anak Internasional !

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Selamat Tinggal TCASH, Selamat Datang LinkAja!

Sebuah sms saya terima pada 30 Januari 2019. Pengirimnya Bank Mandiri. Isinya pemberitahuan tentang platform digital baru bernama LinkAja! dengan menyinggung “masa depan” Mandiri e-cash, dompet uang elektronik yang selama ini saya miliki.

“Pengguna ecash yth, Mulai 01Mar2019 saldo mandiri e-cash Anda akan dipindahkan ke LinkAja. Nantikan LinkAja di Playstore&Appstore mulai 21Feb2019”.
Pemberitahuan itu lumayan mengagetkan. Saya pun segera mencari tahu kepastiannya kepada @Mandiricare lewat twitter dan dikonfirmasi bahwa benar adanya Mandiri E-cash akan berubah menjadi LinkAja. Selanjutnya saldo E-cash akan dipindahkan ke LinkAja.
Beberapa hari kemudian giliran sms dari TCash saya terima. Isinya kurang lebih sama soal peluncuran LinkAja pada 21 Februari 2019 sebagai pengganti aplikasi TCash Wallet yang akan segera dimatikan. Sama seperti saldo Ecash, saldo TCash pun akan dikonversi menjadi saldo LinkAja.
Belakangan pada 20 Februari 2019 sms pemberitahuan datang lagi baik dari Bank Mand…

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …