Langsung ke konten utama

DIKJUT BiOSC 2013: EVAKUASI

Tim penolong II dari Gunung Api Purba tiba membawa tandu dan segera turun ke lokasi Aisha terjatuh. Jika tak salah ingat itu berarti hampir 1,5 jam dari saat kami mendengar “peluit panjang”. Aisha akhirnya mendapatkan pertolongan pertama yang dibutuhkannya. Tapi kami hanya sedikit lega. Ya, sedikit lega karena ketika Aisha sudah mendapatkan pertolongan, maka yang lain adalah bagian kami.

Bukan sebuah evakuasi yang dramatis. Tapi akhirnyamenjadi sangat sulit dan beresiko karena dua hal yakni medan yang sialan dan kondisi mental sebagian peserta yang terlanjur sulit untuk diarahkan. Mereka sudah melihat temannya terjatuh, beberapa di antara mereka saya yakin juga baru pertama kali bersentuhan dengan kondisi alam seperti kemarin, maka wajah-wajah kalut dan takut dapat dibaca dari beberapa di antara mereka saat itu. Tapi mau apalagi, mereka harus naik.

Dari atas kami minta mereka bersiap . Tak ingin menunggu lagi, saya dan Septy memutuskan untuk memulai menaikkan mereka ke atas. Satu orang pertama pelan-pelan kami minta untuk naik dengan panduan tali dan arahan yang saya berikan untuk mencoba berjalan di sisi kiri dan meraih batang semak terdekat. Sementara Septy berdiri satu meter di belakang saya untuk bersiap-siap.

Satu orang peserta naik, wajahnya tampak ketakutan. Meski berkali-kali saya minta untuk tetap tenang dan berjalan dengan melebarkan rentang kaki, tapi akhirnya gagal. Kepanikan di wajahnya membuat usaha ini menjadi tidak mudah. Ketika peserta itu terjatuh sambil merintih setengah menangis, kami akhirnya menghentikan semuanya.  Mereka semua perlu tenang dan mengambil minum. Kami juga meminta setiap yang membawa tas punggung untuk melepaskannya dan meninggalkannya di bawah.  Ketika ada yang bertanya “nanti kalau tertinggal bagaimana?”. Saya menganggapnya itu pertanyaan retoris.

Beberapa saat kemudian Hanif naik ke atas, saya memintanya berada di belakang bersama Septy. Lalu tak lama berselang Wilis juga datang. Dengan kakinya ia memadatkan tanah lalu saya melemparkan bambu kepadanya untuk mencoba menggali tanah agar lebih mudah dipijak. Pekerjaan yang tak mudah, beberapa kali Wilis terpeleset dan meluncur ke bawah.

Evakuasi dimulai kembali. Saya, Wilis, Septy dan Hanif  segera menaikkan semuanya. Wilis berada di bawah menahan para peserta agar tak jatuh kembali ke bawah, sementara saya di tengah, di atas batu mengarahkan peserta untuk melangkah perlahan dan merentangkan kaki mereka  serta meraih batang semak terdekat. Satu tangan saya selalu bersiap meraih setiap tangan peserta yang dinaikkan Wilis. Sementara satu tangan lainnya memegang tali. Di belakang saya, Septy dan Hanif bertugas “menerima” peserta.

Sepanjang evakuasi kami harus mengulangi hal yang sama untuk memandu semuanya naik. Wilis mengarahkan kaki peserta kepada batu yang bisa dipijak. Sementara saya meminta mereka untuk tak terlalu menunduk dan melihat ke bawah, ini beresiko karena jika mereka terpeleset maka kepala mereka bisa menjadi yang pertama menyentuh batu. Arahan ini berhasil membawa beberapa orang ke atas, tapi juga tak mudah  untuk beberapa orang. Sementara sedikit lainnya tampak lebih tenang bahkan tak perlu diarahkan, jika tahu begini saya mungkin akan mengambil kamera.

Saya tak ingat semua ini berlangsung berapa lama. Yang jelas jika sebagian dari mereka merasa ketakutan, maka kami adalah orang-orang yang terkuras perasaan. 
Semua peserta akhirnya naik ke puncak bersama Dita, Agus dan beberapa panitia. Sementara kami tetap di sana menata perasaan dan tenaga. Ternyata Aisha belum ditandu di bawah. Tim Penolong masih melakukan survey jalur untuk turun. Kami pun kembali menanyakan ke bawah dan memutuskan tetap di tempat sampai ada kabar Aisha akan diberangkatkan.

Sambil memantau kondisi di bawah, tawa peserta yang beberapa saat lalu kami evakuasi terdengar keras di puncak. Rupanya mereka sudah riang kembali. Untuk beberapa saat kami mengumpat kecil, “sial, mereka tak ingat bagaimana tadi wajah panik mereka dan rasa cemas kami dengan evakuasi yang penuh resiko itu”. Tapi kami juga lega karena tawa mereka bisa membuat semuanya berjalan lebih ringan tanpa ada rasa ketakutan mendalam hingga akhirnya kami benar-benar kesal kepada mereka yang di puncak.

Dengan menahan geram saya meminta Hanif, Abid dan Wilis untuk naik dan menyuruh para peserta diam. Bukan melarang mereka bahagia, tapi teriakan-teriakan itu membuat komunikasi kami dengan tim penolong Aisha di bawah menjadi terganggu. Bagi mereka waktu-waktu yang menakutkan mungkin sudah selesai. Tapi bagi semua yang ada di bawah bersama Aisha, kecemasan belumlah selesai.  Semoga semuanya bisa memaknai hal ini.

Ketika mendapat kabar dari bawah bahwa Aisha sudah mulai ditandu turun, saya, Septy, Wilis dan Abid, 4 orang terakhir yang berada di lokasi segera naik ke puncak untuk turun menuju sekretariat Gunung Api Purba. Di sana bersama petugas jaga, kami menunggu rombongan yang membawa Aisha turun melalui Embung. Saat itu juga mobil meluncur untuk “menyambut” rombongan. Saya meminta kepada petugas agar Aisha dilewatkan ke sekretariat sebelum dibawa ke Rumah Sakit. Beruntung selain memiliki tim yang sigap, petugas di sekretariat Gunung Api Purba juga sangat terbuka. 
Lewat setengah jam kemudian, mobil merah yang membawa Aisha tiba di sekretariat Gunung Api Purba. Dengan kaki terikat dua bilah kayu, badannya merebah di sebuah tandu. Jelang maghrib Aisha dibawa menuju Panti Rapih. 

selanjutnya:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …

Selamat Tinggal TCASH, Selamat Datang LinkAja!

Sebuah sms saya terima pada 30 Januari 2019. Pengirimnya Bank Mandiri. Isinya pemberitahuan tentang platform digital baru bernama LinkAja! dengan menyinggung “masa depan” Mandiri e-cash, dompet uang elektronik yang selama ini saya miliki.

“Pengguna ecash yth, Mulai 01Mar2019 saldo mandiri e-cash Anda akan dipindahkan ke LinkAja. Nantikan LinkAja di Playstore&Appstore mulai 21Feb2019”.
Pemberitahuan itu lumayan mengagetkan. Saya pun segera mencari tahu kepastiannya kepada @Mandiricare lewat twitter dan dikonfirmasi bahwa benar adanya Mandiri E-cash akan berubah menjadi LinkAja. Selanjutnya saldo E-cash akan dipindahkan ke LinkAja.
Beberapa hari kemudian giliran sms dari TCash saya terima. Isinya kurang lebih sama soal peluncuran LinkAja pada 21 Februari 2019 sebagai pengganti aplikasi TCash Wallet yang akan segera dimatikan. Sama seperti saldo Ecash, saldo TCash pun akan dikonversi menjadi saldo LinkAja.
Belakangan pada 20 Februari 2019 sms pemberitahuan datang lagi baik dari Bank Mand…