Langsung ke konten utama

Jakarta, 15 September 2011


Perpisahan bisa jadi adalah satu hal yang tingkat kepastian terjadinya salah satu yang terbesar dari segala hal yang bisa diduga akan terjadi. Itu karena manusia selalu membuat atau mengalami sebuah perjumpaan. Dengan kata lain perpisahan pasti akan menghampiri setiap insan yang telah menciptakan sebuah perjumpaan. Hingga mau atau tak mau, berani atau tidak berani, setiap insan harus berani menghadapi sebuah perpisahan kalau sebelumnya dia telah berani menciptakan sebuah perjumpaan.

Namun perpisahan bisa jadi juga adalah satu hal yang paling susah diterka kapan terjadinya. Seringkali perjumpaan tercipta saat matahari baru saja terbit di sana, tapi perpisahan langsung segera mengikuti padahal matahari itu belum beranjak 1 derajat dari sana.

Orang tidak pernah benar-benar siap menghadapi sebuah perpisahan. Andaipun telah disadari bahwa suatu ketika perpisahan akan terjadi. Meskipun telah menyiapkan segala tameng hati, tapi pada akhirnya keterkejutan tetap menjadi sebuah pukulan yang hebat saat perpisahan itu tiba.

15 September 2011. Melangkah bersama ribuan orang yang sebagian membawa hatinya dengan utuh, tapi sebagian mungkin meninggalkan sebelah hatinya entah di mana.

Jakarta, 15 September 2011. Yang tertinggal dari Konser 25 Tahun KAHITNA
“aku tahu kita tak saling lupa, walaupun kenyataannya kini kau di sebelah sana...aku tahu kita tak bisa lupa, walaupun kenyataannya kini aku slalu di sini..(KAHITNA)”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Selamat Tinggal TCASH, Selamat Datang LinkAja!

Sebuah sms saya terima pada 30 Januari 2019. Pengirimnya Bank Mandiri. Isinya pemberitahuan tentang platform digital baru bernama LinkAja! dengan menyinggung “masa depan” Mandiri e-cash, dompet uang elektronik yang selama ini saya miliki.

“Pengguna ecash yth, Mulai 01Mar2019 saldo mandiri e-cash Anda akan dipindahkan ke LinkAja. Nantikan LinkAja di Playstore&Appstore mulai 21Feb2019”.
Pemberitahuan itu lumayan mengagetkan. Saya pun segera mencari tahu kepastiannya kepada @Mandiricare lewat twitter dan dikonfirmasi bahwa benar adanya Mandiri E-cash akan berubah menjadi LinkAja. Selanjutnya saldo E-cash akan dipindahkan ke LinkAja.
Beberapa hari kemudian giliran sms dari TCash saya terima. Isinya kurang lebih sama soal peluncuran LinkAja pada 21 Februari 2019 sebagai pengganti aplikasi TCash Wallet yang akan segera dimatikan. Sama seperti saldo Ecash, saldo TCash pun akan dikonversi menjadi saldo LinkAja.
Belakangan pada 20 Februari 2019 sms pemberitahuan datang lagi baik dari Bank Mand…

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …