Langsung ke konten utama

Postingan

Pandji Pragiwaksono dan Obsesinya Menjadi Juru Bicara FPI

  Pandji Pragiwaksono (foto: kompas.com). Menjadi juru bicara merupakan salah satu obsesi terbesar Pandji Pragiwaksono. Bahkan pada sebuah kesempatan ia mengaku menyimpan angan dan cita-cita sebagai juru bicara presiden. Tentu saja itu bukan angan yang berlebihan. Sebab jika kelak Pak Anies Baswedan berhasil menjadi RI1, Bang Pandji pastilah salah satu kandidat utama juru bicara presiden. Apalagi Bang Pandji sudah memiliki portofolio sebagai juru bicara dan juru kampanye Pak Anies ketika pilkada DKI pada 2017 silam. Hasrat sebagai juru bicara juga terpancar dalam buku “Juru Bicara” yang ditulis Bang Pandji beberapa tahun silam. Selain judul buku, Bang Pandji juga menjadikan “Juru Bicara” sebagai nama tur pentas stand up comedy yang diselenggarakannya di sejumlah kota hingga mancanegara. Artinya, menjadi seorang juru bicara merupakan passion terbesar Bang Pandji. Menjadi penyambung lidah merupakan hasrat yang ditanamkannya secara kuat sampai ke relung jiwa. Maka dari itu, tak terlal...

Bencana dan Orang Indonesia yang Gemar Membawa-bawa Agama dan Ulama

Rentetan bencana alam yang terjadi silih berganti dalam dua pekan pertama 2021 menyentak kita sebagai bangsa. Gempa bumi dahsyat, letusan gunung berapi, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, laut pasang, hingga ancaman tsunami bukanlah dongeng di negeri ini. Sebagai negeri yang sangat rawan bencana, Indonesia tak bisa mengelak dari kejadian bencana alam. Lempeng-lempeng benua yang terus bergerak aktif di bawah kerak bumi Indonesia, pengaruh letak geografis, dampak perubahan iklim global, serta sikap dan budaya masyarakatnya telah membuat bencana sebagai konsekuensi dan keniscayaan yang tak bisa kita hindari. Erupsi Merapi pada 17 Januari 2021 (foto: Antara). Salah Kaprah Relasi Agama, Takdir, dan Bencana Pada setiap kejadian bencana alam selalu terlihat representasi mental masyarakat. Dalam hal ini ada paradoks dalam pemaknaan bencana oleh masyarakat Indonesia.  Sebagian masyarakat memaknai bencana alam secara obyektif dengan sudut pandang ilmu pengetahuan beserta aspek-a...

"Vaksin Corona Gratis" vs "Aman Semu"

Di tengah rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk mematuhi protokol kesehatan, ekspektasi terhadap vaksin Covid-19 harus dikendalikan. Komunikasi dan sosialisasi disertai glorifikasi berlebihan akan menimbulkan rasa “aman semu”. Kondisi demikian bisa memperburuk pandemi di Indonesia yang belum terkendali. (dok. hendra wardhana) Vaksin gratis untuk seluruh rakyat tanpa terkecuali seperti yang diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada Rabu (16/8/2020) patut disyukuri. Mengingat sebelumnya pemerintah berencana hanya akan menyuntikkan vaksin gratis kepada sebagian kecil penduduk. Sedangkan sebagian besar masyarakat Indonesia yang ingin divaksin harus membayar sendiri. Memastikan semua rakyat mendapatkan vaksin di tengah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan adalah bentuk pemenuhan tanggung jawab negara terhadap amanat UUD 1945 yang menjamin setiap warga berhak untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya. Menggratiskan vaksin juga bisa mengikis keengganan masyarakat untuk divaksin meng...

Berkat Habib, Aparat Kita Jadi Aktif, Ya Bun...

Seminggu terakhir kita disuguhi parade penegakan hukum yang jarang terjadi di Indonesia. Dari lurah sampai gubernur diperiksa polisi secara maraton selama berjam-jam. Dua kapolda kehilangan jabatan dan jajaran di bawahnya terkena perombakan. Sejumlah pejabat ikut terseret. Sementara yang lainnya bergantian tampil di media seolah memperlihatkan keberanian. Spanduk habib dibabat aparat (foto: kompas) Agak luar biasa mengetahui bahwa semuanya dipicu serta diawali oleh satu orang dengan satu rentetan peristiwa yang dimulai pada 10 November dan berpusat di Petamburan. Bagaimana bisa satu orang dengan acara hajatannya sanggup memicu parade penegakkan hukum? Faktanya memang demikian. Langkah penegakkan hukum tersebut tentu layak diapresiasi. Masyarakat mendukung upaya negara dan aparat yang kali ini memperlihatkan nyalinya di hadapan kelompok-kelompok yang memiliki passion keonaran dan merongrong keutuhan negara. Paling tidak itu memperlihatkan bahwa kita masih memiliki perangkat-perangkat pe...

Negaraku Jadi Pelayan Ormas?

Mulai hari ini protokol kesehatan hanya kata-kata. Segala aturan mengenai pembatasan aktivitas keramaian diberlakukan suka-suka. Mulai hari ini ancaman pandemi hanya hiasan di spanduk yang boleh dirobek kapan saja.  Sebab hari ini kita melihat negara dan aparatnya telah menjadi pelayan yang baik hati. Negaraku jadi pelayan ormas. Melayani dengan banyak cara. Dimulai dengan menghibahkan seruas jalan raya sebagai tempat berpesta. Jalan milik umum. Namun, demi prinsip melayani diberikan saja kepada yang mulia sebagai area privat. Boleh ditutup sesuka hati. Bisa dipasangi tenda pribadi. Pokoknya untuk yang mulia segalanya akan difasilitasi. Pesta di tengah pandemi tidak apa-apa. Asal dilakukan oleh yang mulia. Tidak apa-apa berkerumun tanpa jaga jarak. Asal berbau agama, malah mendatangkan manfaat. Semakin keras doa, apalagi dilakukan oleh keturunan nabi, malah berguna. Semakin banyak massa, semakin takut Corona, semakin takut pula aparat. Kalau mau berkerumun hubungi saja negara. Nisc...

Indonesia Lebih Takut Ormas-Ulama Dibanding Corona

Dunia bersiap belajar dari Indonesia. Dan WHO sebentar lagi akan kembali mengundang pejabat dari Indonesia sebagai narasumber untuk berbagi resep cara menghadapi serangan pandemi Covid-19. Bukankah ini membanggakan dan mengagumkan? Sebab  dunia dan WHO tampaknya akan segera memahami kekuatan besar yang dimiliki oleh Indonesia. Kekuatan itu bernama PSBB alias Peraturan Suka-suka Buat haBib. "Bangsa yang hebat ialah bangsa yang tunduk pada ormas dan takut ulama" Dari Indonesia, dunia bisa memetik banyak pelajaran tentang pandemi. Bahwa Corona tak perlu ditakuti. Corona hanya penyakit biasa. Virusnya bahkan akan mati hanya dengan makan nasi kucing sampai kenyang dan minum kayu putih sampai kembung. Corona tidak lebih dari penyakit yang bisa dikalahkan dengan doa-doa. Jadi tak perlu takut Corona. Justru Corona yang takut dengan Indonesia. Sebab orang-orang di negeri ini sangat relijius. Orang-orang di sini suka sekali bersujud dan berdoa. Tidak hanya di rumah dan tempat ibadah, t...

Ingin Aman Bersepeda? Bayar Dulu 3 Juta!

Pandemi Covid-19 telah menimbulkan ledakan gaya hidup bersepeda. Ini tak lepas dari dorongan untuk hidup sehat dengan berolahraga guna mengatrol kekebalan tubuh. Kini di mana-mana pegowes bermunculan dan menjadi pemandangan utama di jalanan. Baik di kota besar maupun di kota-kota kecil hingga pedesaan. Sebagian dari pegowes itu memang pehobi yang sudah lama mengayuh sepeda. Namun, tak sedikit pula yang merupakan masyarakat awam yang terseret gelombang tren bersepeda.  Maraknya pesepeda selama pandemi Covid-19 akhirnya memunculkan sejumlah fenomena atau dampak susulan. Pertama ialah lonjakan harga sepeda. Nilai tukar roda dua ini tak lagi jutaan, tapi telah berbilang belasan hingga puluhan juta. Menariknya banyak orang seakan tak masalah mengeluarkan banyak uang demi sepeda-sepeda itu. Mengikuti lonjakan harga sepeda, beberapa suku cadangnya pun banyak diburu dan mulai langka. Sebab banyak juga orang yang memilih untuk mempermak sepeda lamanya dengan mengganti beberapa komponennya a...

Rizieq Shihab dan Kerukunan Beragama

Pelarian Habib Rizieq Shihab (HRS) selama lebih dari 3 tahun akan segera berakhir. Lewat kanal youtube pada Rabu (4/11/2020) HRS menyampaikan rencana kepulangannya. Ia akan meninggalkan Arab Saudi pada hari Senin pekan depan (9/11/2020) dan tiba di Indonesia keesokan harinya. Unggahan Presiden Jokowi soal kerukunan beragama pada hari saat Rizieq Shihab mengumumkan rencana kepulangannnya (IG @jokowi). Kabar tersebut sudah pasti disambut suka ria oleh para pendukung HRS, terutama massa Front Pembela Islam (FPI). Kembalinya HRS pun menjadi sorotan berita nasional serta perbincangan di media sosial. Terbukti nama Rizieq Shihab sempat bertengger di jajaran trending topic twitter kemarin. Menariknya, hampir bersamaan dengan pengumuman kepulangan HRS, Presiden Jokowi mengunggah pernyataan yang boleh dianggap kurang biasa di akun media sosial resmi presiden. Dalam unggahannya itu Presiden Jokowi menyinggung soal kerukunan antarumat beragama. Maknanya memang bisa dianggap secara normatif saja s...

Setelah Presiden Jokowi Mengakui Kesalahan dalam Menangani Pandemi

Pandemi Covid-19 di Indonesia belum memperlihatkan tanda-tanda akan berakhir. Meski sejumlah strategi dan kebijakan telah digulirkan, penyebaran dan penularan Covid-19 belum juga terkendali. Lonjakan penularan justru terus terjadi. Kini, angkanya telah melewati batas psikologis 200.000 kasus dengan kematian lebih dari 10.000 jiwa! Mural Presiden Jokowi di sudut Kota Solo (dok. pri). Dari beberapa faktor penyebab sulitnya Indonesia keluar dari cekaman pandemi selama 7 bulan ini, salah satu yang disorot ialah lemahnya kepemimpinan dari tingkat pusat sampai daerah. Bisa dikatakan Indonesia kekurangan pemimpin yang memiliki visi kebencanaan. Itu terlihat dari kebijakan-kebijakan yang kurang tanggap, komunikasi yang buruk, serta koordinasi yang lemah. Pendek kata, selain gagap dan buta pandemi kita juga bermasalah dalam hal kekompakan. Efeknya menjalar hingga ke akar rumput. Masyarakat yang melihat kekacauan di tingkat atas menjadi kehilangan kepercayaan. Di sisi lain sebagian masyarakat di...

Jokowi, Akankah Jadi "Bapak Pandemi"?

Setiap pemimpin pada masanya selalu menghadapi tantangan berbeda. Begitu pula para presiden yang memimpin Indonesia dari dulu hingga kini. Berbagai persoalan terus menguji bangsa Indonesia semenjak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus. Namun, kenyataan Indonesia tetap tegak hingga sekarang menunjukkan bahwa para pemimpin kita berhasil mengantar bangsa ini melewati perjalanan penuh bahaya. Mereka bisa mengatasi tantangan zaman serta meninggalkan monumen sejarah.  Ayo Pakai Masker! (dok. pri).   Untuk setiap keberhasilannya yang luar biasa, seorang presiden akan dikenang dan harum namanya. Sebagaimana untuk setiap warisannya yang monumental setiap pemimpin akan dipuja dan diteladani. Sebaliknya, setiap penyelewengan, penyimpangan, kesewenangan, dan kegagalan bisa menimbulkan kebencian. Pemimpin yang banyak menciptakan luka akan meninggalkan trauma dan sulit dimaafkan. Pendek kata capaian setiap pemimpin tak melulu terekam dalam tinta emas. Sering terserak catatan kelam di antaranya...

Sulitnya Mengajak Orang Pakai Masker

Minggu pagi (6/9/2020)  sembari bersepeda saya sempatkan membagikan masker kepada sembarang orang yang di jalan.  Tentu saja tidak semua yang tak bermasker saya hampiri. Semampunya saja karena tujuan bersepeda sambil melakukan sesuatu mengingat masih banyak orang yang meremehkan pandemi Covid-19. Membagikan masker kepada masyarakat (dok. pri).   Di sepanjang rute yang saya tempuh pagi itu, beberapa kali saya berhenti untuk menghampiri pengayuh becak, petugas parkir, petugas kebersihan, hingga penjual makanan. Merekalah yang saat itu saya jumpai tidak menggunakan masker. Kepada setiap orang yang saya berikan masker, tak lupa saya titipkan pesan agar selanjutnya mereka selalu menggunakan alat pelindung tersebut. “Pakai masker terus ya, Pak. Biar bapak tetap sehat jadi bisa terus jualan”. Begitulah yang saya sampaikan kepada seorang penjual makanan. Saat menerima masker yang saya berikan ia berkata lupa maskernya tertinggal di rumah. Begitupun saat saya menghampiri seorang ...

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi...