Langsung ke konten utama

10 TAHUN KEMUDIAN



Hari ini saya duduk di salah satu sudut taman kota, menghadap ke jalan raya dan menyimak segala yang melintas di depan mata. Cuaca begitu cerah cenderung panas namun kota ini selalu memberikan hawa sejuk cenderung dingin untuk saya.

Hampir dua puluh menit saya duduk sendiri termenung dengan mata menyapu luas ke depan. Suatu ketika melintas seorang penjual yang mendorong gerobaknya yang kosong, mungkin ia baru saja akan berangkat mengais rupiah, bukan sudah habis karena waktu belum mencapai tengah hari.

Suatu ketika saya menoleh ke samping kiri. Di sana di bawah barisan pohon yang teduh ada sepasang laki-laki dan wanita yang duduknya sangat rapat. Bukan mereka sedang rapat, mungkin sedang merenda kasih.

Suatu ketika datang sepasang kakek dan nenek renta dari arah belakang saya. Begitu saya menoleh, terlihat wajah lelah mereka. Sambil bergandengan kakek dan nenek itu mengulurkan tangan. Saya lantas merogoh saku celana.

Selanjutnya satu persatu mobil datang dan berhenti di muka saya. Ternyata sebagian lajur jalan di sini dipakai sebagai parkir mobil.

Kemudian sebuah suara mengejutkan saya lagi dari belakang. Saya menoleh, seorang wanita paruh baya dengan selendang di badannya menjulurkan tangan ke arah saya. Di ujung tangan itu ada sebuah kaleng. Sedetik kemudian ia berucap meminta sesuatu. Saya sambil mengangguk menjulurkan tangan dengan telapak terbuka tanda maaf.

Dua puluh menit hampir habis. Segerombolan anak berseragam pramuka, dengan dasi merah putih mengikat leher mereka. Ada yang memakai celana panjang, namun ada juga yang tak demikian. Sambil berjalan mereka tampak riang bergurau. Sesekali satu di antara mereka mendorong bahu sesamanya. Lantas yang lainnya mengeplak kepala. Lalu tawa pecah tergelak di antara mereka.

Saya hanya tersenyum melihat itu. Senyum yang lantas melemparkan saya ke sebuah masa di mana saya pernah berada di sana juga, pernah jadi seperti mereka, mengenakan pakaian serupa, dengan rambut gaya sisir sebelah dan sebagainya. Saya terus tersenyum diam-diam, mengumpulkan lagi apa yang terjadi 10 tahun lalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Mengenal Lebih Dalam Anggrek Phalaenopsis amabilis, Bunga Nasional Indonesia

Phalaenopsis amabilis (L.) Blume adalah salah satu dari sekitar 36 jenis Anggrek anggota marga Phalaenopsis. Jenis anggrek ini sering dikenal dengan nama Anggrek Bulan. Padahal jika diperhatikan morfologi bunganya, Anggrek ini lebih mirip dengan kupu-kupu, sesuai dengan asal kata Phalaenopsis yakni “Phalaina”  yang berarti kumbang, kupu-kupu dan “Opsis” yang berarti bentuk. Oleh karena itu di beberapa negara Anggrek ini juga dikenal dengan nama Moth Orchid (Anggrek Kumbang).
Pembentukan genus Phalaenopsis dilakukan oleh ilmuwan dunia bernama Carl Blume pada tahun 1825  berdasarkan penemuan Phalaenopsis amabilis di Nusa Kambangan, Jawa Tengah. Sebelumnya Phalaenopsis amabilis pernah ditemukan terlebih dahulu oleh Rumphius pada 1750. Namun pada saat itu Rumphius mengidentifikasinya sebagai anggota marga Angraecum.
Phalaenopsis amabilis adalah anggrek epifit yang hidup menempel pada batang atau dahan tumbuhan berkayu. Batangnya sangat pendek dan tertutup oleh daun yang berbentuk jorong , t…