Langsung ke konten utama

CERITA KONSER HATI KAHITNA SEMARANG (bagian 2 : The Show & Photo)


Konser dimulai !
Pertunjukkan diawali dengan overture potongan lagu-lagu KAHITNA seperti Cerita Cinta, Cinta Sudah Lewat, Tak Mampu Mendua dan Biarkanlah yang disajikan secara instrumentalia. Sementara itu dua layar superbesar di kiri dan kanan panggung menayangkan kilas perjalanan KAHITNA dalam bentuk kliping foto jadul hingga foto terkini. Logo KAHITNA, Yovie & Nuno dan Konser HATI pun terukir bergantian. 


Adanya dua layar superbesar cukup menarik dan menurut saya lumayan menutupi kekurangan yang dimiliki Krakatau Ballroom yang ternyata ukurannya tidak lebih besar dari auditorium kampus saya. Terlebih lagi sayap kanan dan kiri ballrrom beratap jauh lebih pendek dan itu membuat pandangan penonton festival sangat terbatas ke arah panggung. Untunglah hal itu agak terselamatkan dengan adanya layar raksasa. Tapi dua layar besar itu juga yang akhirnya membuat panggung tampak sangat sempit dari arah saya berdiri. Sebagai gambaran ukuran dua layar raksasa itu jika digabung mungkin hampir sama dengan lebar panggung. Mungkin saya salah tapi yang jelas dari arah saya berdiri hanya terlihat posisi Yovie Widianto, Doddy Is, Budiana dan tiga vokalis. Sementara keyboardis Bambang, gitaris Andrie dan pemain perkusi Harry sama sekali tak terlihat.

Bukan itu saja catatan kecil yang saya amati jelang konser, tapi juga masalah kebersihan di tempat saya menonton. Saya agak terkejut ketika di sekitar saya tercecer beberapa box nasi habis pakai, botol bekas minuman dan makanan kecil di lantai. Apakah penonton tadi boleh masuk sambil membawa makanan besar atau itu sisa makanan panitia ?. Saya tidak tahu karna saya datang terlambat. Sebelumnya saya juga agak kesulitan menemukan akses menuju Ballroom karena mulai dari luar hotel hingga di dalam area Matahari tempat penonton masuk saya tidak menjumpai petunjuk yang jelas kecuali saat bertemu satpam di lift.

Tapi catatan-catatan kecil itu boleh lupakan, salah siapa saya memilih kelas festival. Hal-hal kecil itu sempurna tertutupi oleh bintang yang tampil malam itu, siapa lagi kalau bukan KAHITNA. Sepanjang konser yang berlangsung kurang lebih 2,5 jam dan dimulai pukul 21.00 tersebut KAHITNA membawakan sekitar 20 lagu.
This is KAHITNA !
21.10. Enam lampu sorot menyala berturut-turut membuat panggung yang tadinya gelap perlahan temaram. Di bawah sorot lampu-lampu tersebut 3 pria berdiri mereka membelakangi panggung. Penontonpun mulai berseru. Sementara musik mulai dimainkan dan saya  menebak lagu apa yang jadi pembuka.Akhirnya ketika panggung sempurna tersorot, semua personel KAHITNA sudah di atas panggung dengan pakaian jas warna-warni mulai pink, biru, merah hingga hijau muda. Lagu berjudul BAGAIMANA mereka mainkan sebagai pembuka konser.

“Menunggu memang kesal juga, resah menanti jawabannya apa yang ada di hatinya..bagaimana oh bagaimana...”
Usai Bagaimana, hits-hits lama menyusul mereka bawakan seperti Tentang Diriku, Andai Dia Tahu dan Cinta Sudah Lewat. Penampilan awal KAHITNA ini langsung membuat panas penonton salah satunya karena interaksi yang menghibur dari ketiga vokalis mereka Hedi Yunus, Carlo Saba dan Mario Ginanjar.

Jelang pukul 21.30 KAHITNA jeda sesaat untuk memberikan kesempatan kepada Yovie Widianto menyampaikan “pidato politik”. Isi pidatonya kurang lebih begini :

“Selamat malam, senang rasanya KAHITNA bisa sampai di Semarang. Tahun ini kami jalan insyaAllah 26 tahun. Dan KAHITNA selalu tidak keberatan jika disebut sebagai band cinta dan akan terus demikian. Karena apa ?. Karena jelas-jelas negeri ini butuh cinta. Kalau tidak mana mungkin TV biru dan TV merah selalu beradu....Lagu berikutnya saya buat pada saat 55 tahun Indonesia Merdeka. Isinya tentang bagaimana kita berjuang, bahwa berjuang bukan hanya bersuara, tapi lebih berarti kalau dengan karya nyata...”

Lagu BANGUN NEGERI pun dibawakan. Seperti biasa saya selalu menikmati aransemen musik yang mereka bawakan apalagi kali ini KAHITNA tampil dengan format big band dengan 2 pemusik tamu yang memainkan gitar dan saxophone dan juga 2 wanita sebagai backing vocal. Lagu-lagu yang dibawakan pun terasa lebih fresh  dengan musik yang baru tersebut.

 “Oo..oo..eya eyo kita bangun negeri ini kawan..oo eya eyo..eya eya eyo..”
21.37. “Lagu ini ceritanya tentang sepasang kekasih, yang satu di Jakarta, yang satu di Semarang..”. Ucapan Yovie itu disambut riuh dan tepukan penonton seolah tahu lagu yang akan dibawakan : SEANDAINYA  AKU BISA TERBANG.

Ketika membawakan soundtrack cinta jarak jauh ini KAHITNA mengajak seorang penonton wanita ke atas panggung untuk menemani mereka bernyanyi. Sepanjang lagu teriakan dan sorakan silih berganti saat Hedi, Carlo dan Mario bergantian mengerjai penonton tersebut dengan membelai rambut, mengajak berdansa, mencium tangan hingga memeluknya.
Selanjutnya beberapa lagu silih berganti KAHITNA sajikan dan berhasil mengajak penonton untuk ikut bernyanyi. Sepanjang itupula KAHITNA terus menyuguhkan aksi yang menghibur, salah satunya saat membawakan lagu Lajeungan. Di lagu tersebut ketiga vokalis menunjukkan kemampuan mereka bernyanyi sambil “menari”. Tariannya kurang lebih sama dengan yang mereka bawakan saat Konser 25 Tahun Cerita Cinta tahun lalu. Namun tetap menarik terutama bagi mereka yang belum pernah melihatnya.

21.53. “Mengapa terjadi pada diri kuterpesona sesaat, melihat seorang pujaan gayanya oh menawan hati...”. Suara itu tiba-tiba terdengar dari balik panggung. Beberapa detik kemudian muncul dua orang wanita dengan gaun serba ungu bergabung dengan trio vokalis KAHITNA. Siapa mereka ?. Adalah Netta Kusumah Dewi dan Rita Effendy, dua penyanyi yang dulu pernah mengisi line up vokalis KAHITNA bersama Hedi dan Carlo. KAHITNA pun kini berformasi 5 vokalis dan sebuah lagu berjudul Adakah Dia dari tahun 1989 mereka bawakan dengan harmonisasi vokal yang manis bak kelompok vokal.

“Adakah dia tahu kini hasrat cinta di diri, oh Tuhan tolonglah diriku yang dilanda asmara kepadanya...”
KAHITNA Reunian

Netta K. Dewi
Usai Adakah Dia KAHITNA pun bercerita tentang masa lalu mereka saat Netta dan Rita Effendy masih bergabung.  Tak cuma bercerita, Netta dan Rita juga menyumbangkan masing-masing satu lagu lama milik mereka yang diciptakan oleh Yovie Widianto. Netta menampilkan Cita Diri : “aku kini smakin kuasa tuk mengungkapkan yang ada...cita-cita dan hasrat diri bukan misteri semata lagi...semua kan tercipta, cita dan kehidupan..anugerah yang Esa...”. Rita menyusul dengan : “biarkanlah cinta tak berbalas..bila memang harus kunikmati cinta hanya Sebatas Mimpi...”.

Reuni itu masih berlanjut. Mereka kini bersama-sama menembangkan Merenda Kasih yang langsung disambung dengan Aku Dirimu Dirinya.

Aura galau semakin pekat. Setelah Netta dan Rita undur diri, KAHITNA melanjutkan aksi dengan AKU PUNYA HATI. “Lagu ini untuk semua yang punya Hati”. Begitu kata Mario.

“saat aku di sisimu..hatimu terasa jauh, semua rasanya hampa..walau katamu banyak rindu..”

22.15. Usai menyanyikan Setahun Kemarin, KAHITNA istirahat. Namun panggung tak dibiarkan kosong. Pemain biola bernama Didit mengisi panggung dengan bermain solo sampai akhirnya Yovie & NUno keluar dan menyanyikan 3 lagu KAHITNA yakni Untukku, Katakan Saja dan Cinta Sendiri dengan aransemen khas mereka.
22.40. KAHITNA kembali mengambil alih panggung. Kali ini mereka sudah berganti pakaian dengan setelan kemeja dan jas serba hitam putih. Lagu Bintang mereka hadirkan dengan mengundang satu lagi pemusik tamu yang memainkan akordion.

Usai Bintang, KAHITNA menghujani penonton dengan rentetan lagu galau mulai dari Tak Sebebas Merpati hingga Menikahimu yang dimedley secara apik dengan lagu Menanti

23.03. “Semoga malam ini menjadi malam yang Takkan Terganti” buat Semarang.

“Telah lama sendiri, dalam langkah sepi..tak pernah kukira bahwa akhirnya tiada dirimu..di sisiku..”
Takkan Terganti selesai. Saya pun merasa konser sudah mendekati ujung. Dan ternyata benar, dua hits cinta perih berjudul Soulmate dan Mantan Terindah mengantar kami ke penghujung konser.

23.16. Cerita Cinta dibawakan, penonton pun berdiri dan terus ikut bernyanyi.

“Biar cinta bergelora di dada..biar cinta memadukan kita..huo huoo..cerita cinta yang pertama ku rasa, jangan pernah berakhir cerita cinta..kita..”

Akhirnya KAHITNA menutup konser dengan superhits CANTIK. Histeria penonton pun memuncak saat Hedi, Mario dan Carlo menghampiri penonton di semua sudut ballroom. Penonton festival tempat saya berada yang kebanyakan remaja wanita berebut tangan, memeluk, hingga menarik vokalis kesayangan mereka itu seolah tak ingin melepas lagi, seakan tak rela konser diakhiri. "Sungguh aku sayang kamu...."
23.25. Seluruh personel KAHITNA dan pemusik tamu berkumpul di muka panggung memberikan salam hormat dan terimakasih kepada penonton. Konser HATI usai sudah. Kini saatnya meluruskan kaki sejenak, perjalanan 5 jam dari Jogja yang melelahkan lumayan tersamarkan dengan penampilan KAHITNA.

Bersambung.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …

Selamat Tinggal TCASH, Selamat Datang LinkAja!

Sebuah sms saya terima pada 30 Januari 2019. Pengirimnya Bank Mandiri. Isinya pemberitahuan tentang platform digital baru bernama LinkAja! dengan menyinggung “masa depan” Mandiri e-cash, dompet uang elektronik yang selama ini saya miliki.

“Pengguna ecash yth, Mulai 01Mar2019 saldo mandiri e-cash Anda akan dipindahkan ke LinkAja. Nantikan LinkAja di Playstore&Appstore mulai 21Feb2019”.
Pemberitahuan itu lumayan mengagetkan. Saya pun segera mencari tahu kepastiannya kepada @Mandiricare lewat twitter dan dikonfirmasi bahwa benar adanya Mandiri E-cash akan berubah menjadi LinkAja. Selanjutnya saldo E-cash akan dipindahkan ke LinkAja.
Beberapa hari kemudian giliran sms dari TCash saya terima. Isinya kurang lebih sama soal peluncuran LinkAja pada 21 Februari 2019 sebagai pengganti aplikasi TCash Wallet yang akan segera dimatikan. Sama seperti saldo Ecash, saldo TCash pun akan dikonversi menjadi saldo LinkAja.
Belakangan pada 20 Februari 2019 sms pemberitahuan datang lagi baik dari Bank Mand…