Langsung ke konten utama

LIGHTGRAM : LEBIH DARI SEKEDAR INSTAGRAM

INSTAGRAM, kata ini sedang tren di kalangan aktivis jejaring sosial, terkhusus lagi untuk mereka yang gemar mengabadikan momen, tempat atau peristiwa melalui sebuah foto. Instagram memang bukan jejaring sosial. Instagram adalah aplikasi yang memungkinkan pengguna smartphone mengambil gambar lalu “membagikannya” secara cepat ke khalayak umum dengan memanfaatkan fitur mobile upload yang banyak disematkan pada ponsel-ponsel canggih saat ini.
Lightgram#Holga#Nashville#Cintasudahlewat
Apa yang membuat Instagram melembung namanya dalam tempo singkat ?. Pertama seperti yang sudah saya tulis sebelumnya. Instagram membuat orang yang hobi memotret semakin mudah menyalurkan hobinya, di mana saja, kapan saja dan sedang apa saja. Kesuksesan Instagram adalah buah manis dari simbiosis atau  cinta segitiga antara Instagram itu sendiri dengan kecanggihan ponsel dan fleksibilitas jejaring sosial terutama facebook dan twitter.

Alasan kedua, Instagram membuat orang yang tadinya kurang suka dengan fotografi menjadi gemar memotret “apa saja”. Kemudian Instagram membuat orang “menyenangi” foto hasil bidikannya sendiri, apapun kondisinya, meski kurang fokus,  blur atau meski obyeknya biasa saja dan sebagainya. Mengapa demikian ??. Jawabannya adalah FILTER.

Jika kita biasa melihat hasil foto “olahan” Instagram pasti akan tahu kalau foto-foto tersebut memiliki tone, warna serta efek yang menarik dan seringkali dramatis. Tone yang menarik serta efek yang dramatis itu dihasilkan karena Instagram memiliki beberapa “filter” yang bisa dipilih untuk “mengedit” foto aslinya. Dengan kata lain ketika gambar diambil, Instagram akan mengolahnya menggunakan filter-filter tersebut. Proses pengeditannya tentu saja otomatis dan bisa dilakukan oleh siapapun tanpa harus pusing mengukur tingkat exposure, clarity, kontras dan sebagainya. Instagram telah membuat orang yang awam fotografi menjadi gemar memotret dan membuat mereka yang gemar memotret semakin menikmati hobinya.

Instagram juga mendorong orang semakin rajin on line dan membuka akun twitter atau facebook miliknya. Membuat mereka yang awalnya “jaga jarak” dengan facebook atau “putus” dengan twitter kembali jatuh cinta dengan jejaring sosial tersebut. Karena Instagram pula makin banyak orang yang membuat akun jejaring sosial. Inilah salah satu yang mendorong akhirnya Facebook membeli Instagram.

Namun saat ini Instagram hanya dijumpai di beberapa jenis dan spesifikasi ponsel tertentu. Yang bisa menikmati Instagram hanya mereka pengguna smartphone tertentu. Bagaimana dengan yang tidak menggunakan smartphone ?. Bagaimana mereka yang handphone nya masih termasuk handphone jaman “orde baru” atau “reformasi awal” tapi ingin bisa menghasilkan foto dengan “rasa” Instagram ?. Apa bisa ??.

Jawabannya BISA.

Adalah LIGHTGRAM yang memungkinkan orang bisa menghasilkan foto dengan efek ala Instagram tanpa harus menggunakan Instagram atau smartphone. Lightgram berasal dari gabungan kata Lightroom & Instagram.
Lightgram#EarlyBird#Rumah di bawah Merapi
Lightroom adalah aplikasi atau software komputer yang telah lama dikembangkan oleh Adobe untuk memfasilitasi pekerjaan para fotografer dalam mengolah foto. Saat ini Lightroom sudah memasuki versi 4. Saya sendiri masih menggunakan versi 3.

Ukuran Lightroom yang harus diinstall di PC atau Laptop tentu saya jauh lebih besar dibanding Instagram di smartphone. Jika instagram memiliki Filter untuk menghasilkan efek foto yang menarik, maka Lightroom memiliki hal yang sejenis dan diberi nama PRESET.

Jika Instagram mengolah foto secara instan dan cepat, maka Lightroom tidak demikian. Meski memiliki puluhan hingga ratusan Preset, Lightroom tetap “mengajari” penggunanya untuk mengolah foto step by step dengan memperhatikan banyak paramater fotografi. Oleh karena itu saat menggunakan Lightroom orang sebaiknya mengenal tentang berbagai paramater seperti exposure, clarity, tone, vibrance dan sebagainya. Dengan demikian untuk menghasilkan foto dengan efek menarik dan dramatis memang dibutuhkan waktu yang lebih lama serta “kesabaran“ di dalam Lightroom. Namun demikian Lightroom mampu menghasilkan jauh lebih banyak efek dibanding Instagram. Kita juga bisa membuat Preset sendiri dan menyimpannya dengan nama sesuai selera kita. Lightroom juga bisa menghasilkan foto dengan efek dramatis dalam jenis file Hi-Res (High Resolution). Dengan demikian orang bisa mencetaknya dalam lembar foto berukuran besar.

Bagaimana dengan fleksibilitasnya ?. Ukurannya yang besar tidak memungkinkan Lightroom disematkan di ponsel dan memang dibuat bukan sebagai aplikasi ponsel. Namun demikian Lightroom masih memungkinkan orang untuk mengunggah hasil kreasinya langsung ke dunia maya dengan syarat dan registrasi tertentu.

Sekarang bagaimana menghasilkan foto rasa Instagram dengan Lightroom atau yang kemudian disebut dengan Lightgram ?. Secara teknis dibutuhkan beberapa langkah pengolahan foto dengan menggunakan beberapa Preset untuk menghasilkan itu melalui Lightroom. Itupun masih harus melalui standarisasi berbagai paramater yang saya sebutkan tadi. Jadi memang tidak mudah meski juga tidak sulit karena Lightroom didesain dengan menu yang sangat membantu. Namun demikian setelah bisa menghasilkan efek seperti Instagram, kita bisa menyimpan ukuran paramater tersebut sebagai “resep” Preset baru yang selanjutnya dapat digunakan otomatis seperti halnya Filter Instagram. Dan bagi saya langkah panjang ini cukup “menantang” untuk dilakukan di saat senggang.

Di sisi lain naiknya pamor Instagram pada akhirnya melahirkan beberapa Preset baru yang dapat didownload dari internet dan disatukan dengan aplikasi Lightroom yang sudah terinstall lebih dulu di PC atau Laptop. Keberadaan Preset yang identik dengan Filter Instagram inilah yang kemudian memunculkan istilah persilangan “LIGHTGRAM”.

Lalu bagaimana hasil pengolahan foto oleh Lightgram tersebut ?. Semua foto dalam tulisan ini adalah hasil olahan Lightroom dengan menggunakan beberapa preset serta mengatur beberapa paramater hingga menghasilkan efek yang menyerupai foto olahan Instagram. This is LIGHTGRAM !
Lightgram#Holga#EarlyBird#NasigorengSurabaya
Lightgram#Holga#Nashville#daricelahpohon

Lightgram#Nashville#EarlyBird#sebelumpulang
Lightgram#Nashville#EarlyBird#Diskusi_
Lightgram#Nashville#EarlyBird#__
Lightgram#Holga#Nyanyidulu
Lightgram#Holga#EarlyBird#bivak
Lightrgram#Nashville#bivak2
Lightroom#Nashville#Mawar
 Lightgram#Nashville#CSL

 Lightgram#Holga#Nashville#Kerajinantangan

 Lightgram#Holga#EarlyBird#Adacinta_

bersambung....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

Di Balik Lucunya Srimulat: Punya Koneksi Intelijen dan Berani Melawan PKI

Saya menyukai Srimulat sejak kecil. Layar kaca TV menjadi medium saya menyaksikan grup ini. Oleh karena itu, generasi Srimulat yang saya tahu merupakan generasi ketika Srimulat sudah memasuki industri TV. Srimulat era industri TV (foto repro/dok.pribadi). Keluarga besar kami yang banyak berasal dari Klaten dan Jawa Timur membuat saya terpengaruh dan akhirnya menyukai Srimulat. Apalagi saat mudik dan berkumpul di Klaten, tontonan Srimulat menjadi suguhan wajib di rumah kakek. Waktu itu Srimulat tayang berulang kali sepanjang hari selama libur lebaran. Nonton bersama menjadi salah satu kegiatan utama kami ketika berkumpul. Barangkali karena pendiri Srimulat, yakni Raden Ayu Srimulat lahir di Klaten sehingga keluarga kami menyenangi grup lawak ini. Semacam ada ikatan batin atau kebanggaan sebagai sesama orang berdarah Klaten.  *** Pada masa jayanya anggota Srimulat mencapai 100 orang. Bahkan, sepanjang  sejarahnya dari awal berdiri sebagai kelompok kesenian hingga menjadi grup lawak era i

Diari Isoman 4: Gejala Ringan yang Bikin "Ngos-ngosan"

Rabu, 28 Juli 2021, hari ketiga isolasi mandiri saya menyamankan diri dengan berusaha memperbaiki nafsu makan. Sop daging lumayan menyemangati lidah. Semakin hangat karena banyak merica ditambahkan. Yang terjadi pada saya (dok. pribadi). Namun, sedapnya sop tersebut hanya sesaat terasa. Sekitar dua jam kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi. Penciuman saya pelan-pelan memudar. Aroma minyak kayu putih hanya tipis-tipis terlacak. Sementara lidah tak lagi bisa mencecap rasa seperti biasa. Hanya minuman atau buah yang sangat manis masih terlacak sedikit jejaknya. Jangan Disepelekan Malam harinya semua tak lagi tercium dan terasa. Benar-benar hampa penciuman saya. Hambar pula yang segala sesuatu yang mendarat di lidah. Walau demikian ada keuntungan yang saya rasakan, yakni obat yang pahit menjadi tidak masalah lagi untuk ditelan. Anosmia yang tiba-tiba terjadi dan dalam hitungan jam segera menghilangkan kemampuan saya mencium aroma dan mencecep rasa menjadi semacam peringatan bahwa gejal