Langsung ke konten utama

26 Tahun KAHITNA | Cerita soulmateKAHITNA 6 : From Untouchable to Unforgettable


Menyebut nama Kahitna, mengingatkanku saat pertama kalinya aku mendengar lagu “Cantik”. Meski tertinggal satu album, rasanya Kahitna II ini menjadikan awal dari cinta pertamaku pada Kahitna. Saat itu cara aku mengagumi Kahitna hanya sebatas mengkoleksi kasetnya, mendengar lagunya diputar diradio ataupun melihat mereka dilayar TV, tanpa pernah berpikir bahwa someday I will meet them. Maklum saja, meski aku tinggal dikota Surabaya, tapi karena mereka jarang bahkan hampir tidak pernah show ke daerah, maka bagiku Kahitna untouchable. Sampai pergantian vokalis Mario, yg akhirnya mereka mengeluarkan album Lebih Dari Sekedar Cantik, membuat aku bangga bisa mengkoleksi album mereka dalam bentuk CD.  
KAHITNA | Cerita Cinta
Kabar gembira menghampiriku saat mendengar Kahitna mengisi acara salah satu bank,di Tunjungan Plaza – Surabaya pada Januari 2011. Demi melihat sang idola dari dekat, aku rela datang lebih awal, dan rela berdiri berdesakan. Saat mereka perform, aku hanya bisa melihat dan ikut berkaraoke ria dari jauh…Rasanya pingin bersalaman dengan kang hedi, yg waktu itu sempat turun dari panggung, tapi nggak mungkin, aku dibelakang dia didepan, hik hik, hiks.

Beberapa bulan lewat, saat mendengar Kahitna mengadakan Konser Hati, aku sempat jengkel. Mengapa konsernya hanya diadakan di Jakarta dan Bandung. Sempat aku mau datang ke Bandung, tapi pekerjaan nggak mungkin ditinggal, karena konsernya tepat hari Jum’at. Alhamdulillah, akhir Desember 2011 adalah saat – saat paling menggembirakan dalam hidupku, karena mendengar kabar bahwa Kahitna akan mengadakan Konser Hati tepat pada hari Valentine, Thanks God…Thanks Kahitna.

11 Januari aku sudah memegang tiket konsernya, dan tgl.19 Januari’12 untuk pertama kalinya, Finally I meet kang Hedi and mas Yovie @ BCC Sutos-Surabaya, saat mereka mengadakan pers conf. pertama bersama Dikta. Wah rasanya seperti mimpi disiang hari, ternyata mereka sangat ramah, aku bisa bersalaman, minta tanda tangan, bahkan bisa berfoto dengan sang idola, kang Hedi. Tanggal 13 Feb’12 saat Pers conf. kedua pun aku datang, kali ini Kahitna datang dengan formasi lengkap, ada kang Hedi, Mario, mas Carlo, mas Yovie, mas Andrie, dll. Berfoto dengan kang Hedi adalah hal yang kunanti-nanti, sampai-sampai foto’nya aku jadikan pp di akun Facebook ku.
14 Feb’12 was a great moment, it was lovable concert, benar-benar konser hati. Bersama teman2 aku mendapat posisi strategis, tepat didepan panggung kelas Festival A kanan. Itu membuat kami bisa bersalaman dari trio vokalis Kahitna, plus  mengabadikan gambar dari dekat saat-saat mereka bernyanyi dan bergaya. Meski nggak dapat pin yg dilempar sama kang Hedi, Hati sudah puas banget, akhirnya Kahitna bukan lagi Untouchable but Unforgettable, aku bangga jadi Soulmate Kahitna…

Moment indah berlanjut sampai konser Kahitna & Rick Price. Pelaksanaan M&G yg tak terbuka membuat aku datang terlambat dan ternyata acara telah usai. Akhirnya atas jasa mang Anwar, aku bisa nyamper’in kang Hedi yang lagi nyantai di zangrandi ice cream. Meskipun begitu, kang Hedi tetep ramah, mau berfoto dan menandatangani foto kanvas aku yg guede banget, bahkan di upload sama mas Hanief di twitter, hehehe thanks mas..

18 Maret’12 was the sweetest Sunday for me. Aku dan teman2 duduk di pinggir red carpet, (atas saran temanku Jayanti,yg sudah nonton di Jogja) dengan tujuan kalau sang vokalis lewat kita bisa bersalaman. Meski “Silver” ternyata posisi ini sangat strategis. Dan benar saja, waktu Kahitna melantunkan lagu “nggak ngerti” kang Hedi, pujaan hatiku turun dari panggung, berjalan di red carpet…dan aku pun menghampirinya. Kukalungkan syal biru, yg sudah kupersiapkan untuknya, unbelievable ternyata yang semula  aku cuma ingin bersalaman, suddenly kang Hedi memelukku, mencium pipiku…wow, saat itu rasanya jantungku berhenti berdetak. Serasa aku perempuan paling beruntung digedung Gand City. Sampai akhir lagu..”kau selalu ada dilangkahku” kang Hedi mendekatkan mic’nya dan kita bernyanyi bersama, last but not least…kang Hedi memelukku dan menciumku lagi.. That was awesome, thanks a lot kang Hedi, for the lovely hug and kiss. Terima kasih juga untuk semua personil Kahitna yang sudah menjadikan Surabaya sebagai kota terakhir konser dan juga suatu kebanggaan bagi kami, orang Surabaya yang dihadiah’i lagu special “I’ll never let you go”. Banyak terima kasih juga untuk temen2ku Jayanti, Malyda, Lilis dan mbak Menik, bersama kita menikmati malam yang indah.  

Tidak diragukan lagi, Kahitna is THE BEST. Keramahannya di luar maupun di dalam konser, membuat para Soulmate semakin mencintainya. Semoga kedepannya, semakin sukses dan tentunya kita semua juga berharap tidak akan ada pergantian personilnya. Kahitna is our family, jadi Salam Soulmate Kahitna.          

(cerita Aswindri Brotosoedirdjo - Surabaya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Di Balik Lucunya Srimulat: Punya Koneksi Intelijen dan Berani Melawan PKI

Saya menyukai Srimulat sejak kecil. Layar kaca TV menjadi medium saya menyaksikan grup ini. Oleh karena itu, generasi Srimulat yang saya tahu merupakan generasi ketika Srimulat sudah memasuki industri TV. Srimulat era industri TV (foto repro/dok.pribadi). Keluarga besar kami yang banyak berasal dari Klaten dan Jawa Timur membuat saya terpengaruh dan akhirnya menyukai Srimulat. Apalagi saat mudik dan berkumpul di Klaten, tontonan Srimulat menjadi suguhan wajib di rumah kakek. Waktu itu Srimulat tayang berulang kali sepanjang hari selama libur lebaran. Nonton bersama menjadi salah satu kegiatan utama kami ketika berkumpul. Barangkali karena pendiri Srimulat, yakni Raden Ayu Srimulat lahir di Klaten sehingga keluarga kami menyenangi grup lawak ini. Semacam ada ikatan batin atau kebanggaan sebagai sesama orang berdarah Klaten.  *** Pada masa jayanya anggota Srimulat mencapai 100 orang. Bahkan, sepanjang  sejarahnya dari awal berdiri sebagai kelompok kesenian hingga menjadi grup lawak era i