Langsung ke konten utama

PANGGILAN TAK TERJAWAB


Halaman ini kosong, tak ada apa-apa karena hanya sebuah panggilan yang tak terjawab, tiada percakapan.















Ketika kembali ke meja, saya sadar telah terlambat beberapa menit untuk mengetahui ada 3 panggilan masuk ke dalam HP biru ini, handphone yang sudah sangat jarang saya gunakan.

Dari mana ?. Dari siapa ?. Nomor pendek dengan awalan yang tak lazim dan sesaat saya tahu ini bukan nomor dalam negeri.

Berselang menit kini terjawab dari mana asal 3 panggilan tak dikenal itu. Mb Uci,  memberi tahu kalau nomor yang memanggil HP lama itu berasal dari Negeri Jiran. Jiran ?.

Bagai kumpulan slide menampilkan potret-potret cerita masa lalu. Ingatan ini mundur ke belakang menuju  masa lama. Mungkinkan itu kamu ?. Tidak mungkin. Tapi jika benar itu kamu, lantas untuk apa ?. Maaf, waktu saya letakkan lagi HP itu tanpa ingin berbalik menghubungi.

Saya tak ingin berkata semua itu terlambat, seperti halnya tak ada yang kebetulan. Di sini yang ada adalah ketentuan. Tapi memang sudah bukan waktunya lagi bicarakan ini. Orang seumuran kita tak lagi pantas bicara “mengapa ?”. Manusia dewasa seperti kita tak perlu lagi mempermasalahkan “bagaimana bisa ?”. Bukan sia-sia, tapi tak ada guna.

Jika benar itu kamu, maka panggilan ini mungkin hanya panggilan salah alamat.

Sudahlah, pertemuan-pertemuan itu memang menjadi milik kita. Tapi tak semua yang terjalin dalam sebuah pertemuan akan jadi milik kita, bukan ?. Kita memang pernah lama bersama tapi tak sempat saling kenal. Biar saja kalau nanti ada pertemuan lagi, kita selesaikan apa-apa yang dulu terlewatkan dan tak terselesaikan.

Tapi sekarang semua sudah lewat, kau yang buat.
Di seberang sana, semoga kau selalu sehat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

Berjuta Rasanya, tak seperti judulnya

“..bagaimana caranya kau akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu..” 14 Mei lalu saya mengunjungi toko buku langganan di daerah Gejayan, Yogyakarta. Setiba di sana hal yang pertama saya cari adalah majalah musik Rolling Stone terbaru. Namun setelah hampir lima belas menit mencarinya di bagian majalah saya tak kunjung mendapatinya. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri puluhan meja dan rak lainnya. Jelang malam saya membuka tas dan mengeluarkan sebuah buku dari sana. Bersampul depan putih dengan hiasan pohon berdaun “jantung”. Sampul belakang berwarna ungu dengan beberapa tulisan testimoni dari sejumlah orang. Kembali ke sampul depan, di atas pohon tertulis sebuah frase yang menjadi judul buku itu. Ditulis dengan warna ungu berbunyi Berjuta Rasanya . Di atasnya lagi huruf dengan warna yang sama merangkai kata TERE LIYE . Berjuta Rasanya, karya terbaru dari penulis Tere Liye menjadi buk