Langsung ke konten utama

PERBEDAAN


Sejatinya tulisan ada karena sms seseorang yang masuk ke HP Nokia saya kemarin malam. Sebut saja Indah, nama sebenarnya, usianya yang lebih muda dari saya membuat kami beberapa kali terlibat perbincangan seperti halnya saudara. Beberapa hal ia ceritakan pada saya, yang paling sering soal asmaranya beserta segala macam bumbu seperti perkelahian antar wanita (berkelahi beneran), cinta segitiga dan sebagainya. Saya sering “terhibur”mendengar cerita-cerita itu darinya. Daripada menonton kisah sinetron, kisah Indah ini lebih nyata.

Dan semalam dia mengirim sms bahagia. Bahagia dari sudut pandang dirinya karena usai jalinan asmara lamanya kandas dengan meninggalkan banyak kisah sinetron, kini ia mengaku bisa merasai lagi indahnya cinta. Sekali lagi cinta menurut sudut pandang dirinya. Namun rasanya yang ini begitu menggembirakan untuknya. Alasan pastinya hanya ia yang tahu, namun satu yang terbaca dari bunyi smsnya semalam adalah bahagia karena tembok perbedaan yang menjadi batas pemisah asmara nya dengan seseorang lain kini akan segera runtuh.

Perbedaan di antara mereka bukanlah beda kota meski kemungkinan itu nanti akan ada. Bukan juga beda dunia, keduanya manusia kok. Perbedaan itu mengenai hal yang sangat asasi yakni keyakinan. Oleh sebab itu dulu saat ia bercerita tengah menjalin kisah dengan seseorang beda keyakinan, saya dengan setengah canda langsung merekomendasikan lagu KAHITNA – Nggak Ngerti sebagai lagu tema untuknya. "Mengapa harus keyakinan memisah cinta kita...meski cintamu aku..". Lagu itu saya berikan bukan tanpa maksud, selain untuk bahan candaan seperti biasa yang kami lakukan, lagu itu juga sesungguhnya untuk mengingatkan bahwa sebesar-besarnya hasrat seseorang, pada akhirnya semua kembali ke suratan Tuhan. Sebesar-besarnya kasih, pada akhirnya tidak semua bersatu karena ada batas nyata namun sering tak kasat mata hingga terlalu besar untuk manusia kalahkan, terlalu jauh dari jangkauan manusia untuk menembusnya. Itu kata orang, saya cuma mencupliknya dan saya sampai saat ini meyakininya. 

Akhirnya Perbedaan tak selalu bersatu dalam sinergi yang membahagiakan, Mau dikatakan apalagi kadang juga berakhir sebagai elegi yang menyakitkan.   Dan perbedaan itu adalah (salah satunya) tentang keyakinan.

Kembali ke kisah tentang Indah. Sms nya semalam masih berkutat pada “Perbedaan” itu.  Namun tembok pemisah keyakinan itu akan segera sirna. Setidaknya janji dan harapan itu yang Indah dapatkan dari sebuah makan malam bersama seseorang. Semoga saja kali ini Perbedaan memang mengambil ujung cerita yang bahagia.

“Oh kasih, aku bahagia sungguh bahagia...
Ku rangkai bunga untukmu
Dalam ikatan asmara..

Ku bertanya bertanya bertanya..
Akankah ku dapatkan kasihnya..”
(KAHITNA – Kencan Pertama)

Perbedaan pula yang mengisi sepenggal jalan hidup saya. Memasuki bangku SMP saya menapak lingkungan pergaulan baru yang boleh saya katakan jauh berbeda dibanding saat berkostum merah putih. Bukan semata migrasi dari desa menuju pusat kota. Bukan hanya beranjak dari masa kanak-kanak menuju belajar dewasa. Berada di sekolah favorit dan ditempatkan di kelas unggulan saya bergaul dengan orang-orang pandai yang lebih dulu mengenal kehidupan kota.

Banyak teman baru dan entah seperti awalnya hingga kemudian tanpa disadari saya banyak berteman dengan teman-teman keturunan Cina. Bersama teman-teman itu saya bersaing sekaligus berkawan baik. Kami beberapa kali belajar bersama. Naik mobil bersama, tentu saja mobil milik keluarga mereka.

Di dalam kelas saya duduk hampir satu baris dengan tempat duduk mereka. Biasanya teman-teman saya yang keturunan itu duduk di depan, sementara saya di belakang mereka. Jujur saja saya tak tahu mengapa saya bisa lebih akrab dengan mereka padahal di sisi lain isu “SARA” waktu itu cukup terdengar di sekolah kami. Maklum, sebagian siswa keturunan Cina selain berasal dari keluarga berada, juga dipandang pintar dan sebagian besar berkumpul di kelas yang sama dengan saya. Belakangan akhirnya saya tahu, di sinilah saya belajar Toleransi yang sesungguhnya melebihi apa yang ibu dan bapak guru bacakan dari textbook. Toleransi yang masih terus saya maknai hingga kini.

Tapi lucu juga pertemanan kami waktu itu. Hingga saat ulangan pun mereka tak segan berusaha mencontek saya, sebaliknya saya pun sering membantu mereka atau sebaliknya.

Dan pertemanan itu terus berlanjut hingga bangku kelas 3 mengumpulkan kami kembali. Pertemanan kami tak berubah meski bumbu persaingan makin terasa. Maklum saat itu adalah waktunya kami memforsir energi demi lulus dengan nilai terbaik. Namun di tengah persaingan itu tetap terselip pertemanan yang jujur saja saya rindukan saat ini. Lucu karena jika di saat siswa lain mengejek mereka dengan sebutan “Cina” atau “sipit” dan mereka marah atau tersinggung, maka jika kami yang melemparkan sebutan itu, mereka merasa biasa saja. Lucu karena dari banyak teman keturunan itu, sebagian besar yang dekat dengan saya adalah teman wanita, ada Ira, nama lengkapnya Siska Ira Susanto, ada Felicia Ratna atau Felis, ada juga Nike atau Eunike Septi Arisandi. Kemudian yang laki-laki ada Rio Ferdinanto, ada Albert.

Kami lalu lulus SMP. Dan sejak itu pula pertemanan kami berakhir. Bukan karena kami tak lagi lagi teman. Selamanya mereka akan saya kenang sebagai salah satu teman terindah meski cerita yang kami lalui tak selalu indah. Pertemanan kami usai karena semenjak itu kami berpisah melanjutkan sekolah ke kota-kota yang berjauhan. Kini saya tak mengerti lagi kabar mereka. Hanya dari jendela facebook yang tidak aktif saja saya sempat membaca kehidupan mereka kini. Namun rasanya itu tak mengganti semua cerita yang pernah terjalin dulu. Cerita tentang Perbedaan yang membuat saya susah lupa.

Perbedaan pula yang hadir di keluarga besar saya. Beragam karakter itu pasti. Berbeda watak dan tabiat bukan hal yang aneh. Saya yang seorang laki-laki secara karakter dan watak lebih mirip Ibu, sementara saudara-saudara wanita saya justru lebih dekat ke Bapak. Bukan hanya itu, di antara keluarga besar kami pun ada yang menganut keyakinan berbeda. Bahkan belakangan saya tahu kalau dalam gugus keluarga besar yang menetap di Solo terdapat saudara yang keturunan Cina.

Perbedaan kata orang bijak itu sebuah Rahmat. Mungkin benar, setidaknya saya merasakan sisi yang demikian. Namun Perbedaan memang selalu punya dua jalan. Jalan yang berujung pada kebahagiaan yang kemudian orang maknai sebagai rahmat. Dan jalan yang pada akhirnya mau tidak mau kita terima sebagai kenyataan yang tak membahagiakan atau setidaknya tak mengenakkan. Dan saya sudah merasai keduanya.

Sudah beberapa kali kami sekeluarga terlibat perselisihan hanya gara-gara beda memilih kapan lebaran akan dirayakan. Meski perdebatan ringan namun ada kalanya memanas danberujung salah satu di antara kami kesal. Akhirnya sudah beberapa tahu ini, saya, ibu, bapak dan adik-kakak merayakan lebaran pada hari yang berbeda-beda. Tahun lalu misalnya, Bapak dan Ibu memilih merayakan Idul Fitri sehari lebih awal dari saya dan saudara-saudara saya. Dan saya tak tahu pasti apa untuk hal yang satu ini Perbedaan menjadi sebuah  rahmat atau laknat, meminjam istilah Prof. Sofyan dari Islamic University of Europe.

Namun Perbedaan, apapun itu selalu meninggalkan jejak yang bermakna, kalau tidak untuk saat ini pasti untuk nanti. Selalu meninggalkan pelajaran yang pasti berharga, untuk selamanya.

Perbedaan itu suratan. Dan suratan adalah jalan yang harus dilalui seseorang, apapun peran yang ia jalani dalam kisah tersurat itu, selalu ada kebahagian terselip di sana, sekecil apapun. Itu yang membuat seorang bijak berkata bahwa Perbedaan ada untuk disyukuri, bukan disesali.


Tak ada yang harus kita sesali
Semua indah yang pernah kita alami
Meski terbatas dan tak mungkin terikat janji abadi
Aku Dirimu Dirinya
Tak akan pernah mengerti tentang suratan
Dia untukmu adanya
Tak akan aku sesali

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Selamat Tinggal TCASH, Selamat Datang LinkAja!

Sebuah sms saya terima pada 30 Januari 2019. Pengirimnya Bank Mandiri. Isinya pemberitahuan tentang platform digital baru bernama LinkAja! dengan menyinggung “masa depan” Mandiri e-cash, dompet uang elektronik yang selama ini saya miliki.

“Pengguna ecash yth, Mulai 01Mar2019 saldo mandiri e-cash Anda akan dipindahkan ke LinkAja. Nantikan LinkAja di Playstore&Appstore mulai 21Feb2019”.
Pemberitahuan itu lumayan mengagetkan. Saya pun segera mencari tahu kepastiannya kepada @Mandiricare lewat twitter dan dikonfirmasi bahwa benar adanya Mandiri E-cash akan berubah menjadi LinkAja. Selanjutnya saldo E-cash akan dipindahkan ke LinkAja.
Beberapa hari kemudian giliran sms dari TCash saya terima. Isinya kurang lebih sama soal peluncuran LinkAja pada 21 Februari 2019 sebagai pengganti aplikasi TCash Wallet yang akan segera dimatikan. Sama seperti saldo Ecash, saldo TCash pun akan dikonversi menjadi saldo LinkAja.
Belakangan pada 20 Februari 2019 sms pemberitahuan datang lagi baik dari Bank Mand…

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …